Daarus Sa'adah 1 Nihayatuz Zain
Kajian Nihayatuz Zain

Nihayah Zain Syaikh Nawawi Al-Bantani : Muqodimah - 02

Oleh KH. M. Rifqy Aziz Syafe'i · 08 October 2026
Nihayah Zain Syaikh Nawawi Al-Bantani : Muqodimah - 02

Teks Kitab & Terjemah

أَمَّا بَعْدُ، فَيَقُولُ الْعَبْدُ الْفَقِيرُ، الرَّاجِي مِنْ رَبِّهِ الْخَبِيرِ غَفْرَ الذُّنُوبِ وَالتَّقْصِيرِ، مُحَمَّدٌ نَوَوِيٌّ ابْنُ عُمَرَ التَّنَارِيُّ بَلَدًا، الْأَشْعَرِيُّ اعْتِقَادًا، الشَّافِعِيُّ مَذْهَبًا: هَذَا شَرْحٌ عَلَى قُرَّةِ الْعَيْنِ بِمُهِمَّاتِ الدِّينِ لِلشَّيْخِ الْعَلَّامَةِ زَيْنِ الدِّينِ ابْنِ الشَّيْخِ عَبْدِ الْعَزِيزِ ابْنِ الْعَلَّامَةِ زَيْنِ الدِّينِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَحْمَدَ الْمَلِيبَارِيِّ الْفَنَّانِيِّ، قَصَدْتُ بِهِ نَفْعَ إِخْوَانِي الْقَاصِرِينَ مِثْلِي، وَسَمَّيْتُهُ: «نِهَايَةَ الزَّيْنِ فِي إِرْشَادِ الْمُبْتَدِئِينَ».

Amma ba'du. Berkatalah hamba yang faqir, yang mengharap dari Tuhannya Yang Mahamengetahui ampunan atas dosa-dosa dan kekurangan, Muhammad Nawawi bin 'Umar at-Tanari (negerinya Tanara, akidahnya Asy'ari, mazhabnya Syafi'i): Ini adalah syarah atas Qurratul 'Ain bi Muhimmatid Din karya Syekh al-'Allamah Zainuddin bin Syekh Abdul Aziz bin al-'Allamah Zainuddin bin 'Ali bin Ahmad al-Malibari al-Fannani. Aku menyusunnya dengan maksud memberi manfaat kepada saudara-saudaraku yang terbatas kemampuannya seperti diriku, dan aku menamainya Nihayatuz Zain fi Irsyadil Mubtadi'in.

 

وَلَمْ يَكُنْ لِي مِمَّا سُطِّرَ فِي هَذَا الْكِتَابِ شَيْءٌ، بَلْ جَمِيعُهُ مَأْخُوذٌ مِنْ عِبَارَاتِ الْمُؤَلِّفِينَ، نَفَعَنَا اللَّهُ بِهِمْ، آمِينَ. وَغَالِبُ مَا فِيهِ مِنْ نِهَايَةِ الْأَمَلِ لِلشَّيْخِ الْعَلَّامَةِ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ أَبِي خُضَيْرٍ الدِّمْيَاطِيِّ، فَإِنَّهَا عَيْنٌ غَدِيقَةٌ، وَمِنْ نِهَايَةِ الْمُحْتَاجِ وَتُحْفَةِ الْمُحْتَاجِ لِلْإِكْلِيلَيْنِ مُحَمَّدٍ الرَّمْلِيِّ وَأَحْمَدَ بْنِ حَجَرٍ، فَإِنَّهُمَا عُمْدَتَانِ لِلْمُتَأَخِّرِينَ مِنَ الْعُلَمَاءِ الشَّافِعِيَّةِ، وَمِنْ فَتْحِ الْجَوَادِ وَالنِّهَايَةِ شَرْحِ أَبِي شُجَاعٍ، وَمِنَ الْحَوَاشِي.

Tidak ada milikku sedikit pun dari apa yang tertulis dalam kitab ini. Seluruhnya diambil dari ibarat para pengarang, semoga Allah memberi kami manfaat dengan mereka, amin. Sebagian besar isinya berasal dari Nihayatul Amal karya Syekh al-'Allamah Muhammad bin Ibrahim Abi Khudhair ad-Dimyathi, karena ia adalah mata air yang melimpah. Juga dari Nihayatul Muhtaj dan Tuhfatul Muhtaj karya dua mahkota, Muhammad ar-Ramli dan Ahmad bin Hajar, karena keduanya adalah pegangan utama ulama Syafi'iyah belakangan. Juga dari Fathul Jawad dan an-Nihayah, syarah Abu Syuja', serta dari berbagai hasyiyah.

 

فَمَا كَانَ فِيهِ مِنْ صَوَابٍ فَمَنْسُوبٌ إِلَى هَؤُلَاءِ، وَمَا كَانَ مِنْ خَطَأٍ فَمِنْ ذِهْنِيَ الْكَلِيلِ، فَالْمَرْجُوُّ مِمَّنِ اطَّلَعَ عَلَيْهِ أَنْ يُصْلِحَهُ بِلُطْفٍ وَاحْتِيَاطٍ. وَاللَّهَ أَسْأَلُ، وَبِنَبِيِّهِ الْكَرِيمِ أَتَوَسَّلُ، أَنْ يَنْفَعَ بِهِ كَمَا نَفَعَ بِأُصُولِهِ، وَأَنْ يُحِلَّهُ مَحَلَّ الْقَبُولِ، إِنَّهُ أَكْرَمُ مَسْؤُولٍ.

Maka apa pun yang benar di dalamnya dinisbatkan kepada mereka, dan apa pun yang salah berasal dari akalku yang tumpul. Karena itu, yang diharapkan dari siapa saja yang menelaahnya adalah memperbaikinya dengan lemah lembut dan penuh kehati-hatian. Hanya kepada Allah aku memohon, dan dengan Nabi-Nya yang mulia aku bertawassul, agar Dia memberi manfaat dengan kitab ini sebagaimana Dia telah memberi manfaat dengan kitab-kitab induknya, dan agar Dia menempatkannya pada tempat penerimaan. Sungguh, Dia adalah Yang Paling Mulia untuk dimintai.

Penjelasan Ijmali: Gagasan Pokok Muqaddimah Nihayatuz Zain

Muqaddimah ini bergerak dalam empat lapis. Lapis pertama adalah perkenalan diri. Penulis memperkenalkan dirinya dengan kerendahan hati (hamba yang faqir), lalu menyebut tiga identitas: negeri, akidah, dan mazhab. Ketiganya adalah penanda manhaj yang jelas sehingga pembaca tahu dari mana kitab ini berbicara.

Lapis kedua adalah hubungan kitab dengan matannya, tujuan penulisan, dan nama kitab. Kitab ini adalah syarah atas Qurratul 'Ain, ditulis demi manfaat para pelajar yang kemampuannya terbatas seperti penulis, dan diberi nama yang menyiratkan bimbingan bagi pemula.

Lapis ketiga adalah pernyataan amanah ilmiah. Penulis menyatakan bahwa isi kitab seluruhnya bersumber dari para pengarang sebelumnya, lalu menyebut kitab-kitab yang menjadi sandarannya, dari yang paling banyak dirujuk hingga hasyiyah. Ini adalah adab ilmiah yang tegas: ilmu dinisbatkan kepada pemiliknya.

Lapis keempat adalah pembagian tanggung jawab dan doa. Kebenaran dinisbatkan kepada para pengarang sumber, kesalahan dinisbatkan kepada penulis sendiri, pembaca diminta memperbaiki dengan santun, dan seluruhnya ditutup dengan permohonan agar kitab ini bermanfaat dan diterima.

Penjelasan Tafshili:

1. "Amma Ba'du": Penanda Peralihan

Ungkapan amma ba'du lazim memisahkan antara khutbah pembuka dan pokok pembahasan. Amma adalah huruf yang mengandung makna syarat dan perincian, sehingga kalimat setelahnya diawali huruf fa' pada fayaqulu. Kata ba'du dibaca dhammah karena mudhaf ilaih-nya dibuang sementara maknanya tetap dibayangkan, yaitu "sesudah (pujian dan shalawat) tadi". Pola ini sudah menjadi kebiasaan para penulis sejak masa klasik.

2. Diri Penulis: Rendah Hati dan Penuh Harap

Penulis memperkenalkan diri dengan al-'abd al-faqir ar-raji, yakni hamba yang faqir lagi mengharap. Kata ar-raji adalah isim fa'il yang membutuhkan objek, dan objeknya adalah ghafra adz-dzunub wat-taqshir, ampunan atas dosa dan kekurangan. Dengan kata lain, sebelum menyebut namanya, penulis lebih dulu menyebut sifat penghambaan dan harapannya. Penyebutan Allah sebagai al-khabir (Yang Mahamengetahui) juga serasi dengan pengakuan atas kekurangan: yang mengetahui seluruh kekurangan itulah yang diharap ampunan-Nya.

Setelah itu muncul nama lengkap: Muhammad Nawawi bin 'Umar at-Tanari. Perlu dicatat, Nawawi di sini adalah Nawawi al-Jawi, bukan Imam an-Nawawi penyusun Minhaj ath-Thalibin. Nisbat at-Tanari mengacu pada Tanara, sebuah wilayah di Banten.

3. Tiga Identitas dengan Pola Tamyiz

Tiga identitas penulis ditulis dengan pola yang rapi: baladan (negeri), i'tiqadan (akidah), dan madzhaban (mazhab). Ketiganya berstatus tamyiz, yakni pembeda yang menjelaskan sisi mana dari nisbat tersebut. Dengan susunan ini, penulis menjawab tiga pertanyaan sekaligus: dari mana ia berasal, bagaimana akidahnya (al-Asy'ari), dan mazhab apa yang ia ikuti (asy-Syafi'i). Pola semacam ini memudahkan pembaca menimbang kitab sesuai manhaj penulisnya.

4. Matan yang Disyarah dan Silsilah Pengarangnya

Kalimat hadza syarhun 'ala Qurratil 'Ain bi Muhimmatid Din adalah kalimat nominal: hadza sebagai mubtada' dan syarhun sebagai khabar. Matan yang disyarah bernama lengkap Qurratul 'Ain bi Muhimmatid Din, dan pengarangnya disebut dengan rantai nasab yang cukup panjang: Zainuddin bin Abdul Aziz bin Zainuddin bin 'Ali bin Ahmad, dengan nisbat al-Malibari dan al-Fannani, yaitu nisbat daerah asal di wilayah Malabar, India selatan. Penyebutan nasab selengkap ini memberi kepastian identitas, sebab nama Zainuddin dipakai oleh lebih dari satu orang dalam silsilah yang sama.

5. Maksud Penulisan: Memberi Manfaat bagi yang Terbatas

Penulis menyatakan qashadtu bihi naf'a ikhwani al-qashirina mitsli. Kata al-qashirin berasal dari qashara, yang berarti pendek atau terbatas, dan di sini bermakna terbatas kemampuannya. Penulis menyamakan dirinya dengan mereka lewat kata mitsli (seperti aku). Penyamaan ini bukan basa-basi: kitab ditulis bukan untuk menunjukkan keluasan ilmu penulisnya, melainkan untuk mempermudah pelajar yang terbatas.

6. Nama Kitab: Nihayatuz Zain fi Irsyadil Mubtadi'in

Nama kitab terdiri atas dua bagian. Nihayatuz Zain berarti puncak keindahan, sedangkan fi irsyadil mubtadi'in berarti dalam membimbing para pemula. Pembaca mungkin merasa janggal: puncak, tetapi untuk pemula? Pembacaan yang masuk akal, dan ini tafsir tim kajian yang perlu dikurasi, adalah bahwa kitab ini hendak menyajikan bimbingan yang paling baik bagi pemula, bukan mengejar tingkat pembahasan yang paling tinggi. Kata az-zain juga dapat dibaca sebagai isyarat pada nama Zainuddin, pengarang matan. Pembacaan ini adalah dugaan, bukan keterangan penulis.

7. Amanah Ilmiah: "Tidak Ada Milikku Sedikit Pun"

Bagian ini penting. Penulis menyatakan wa lam yakun li mimma suththira fi hadzal kitab syai', bahwa tidak ada milikku dari apa yang tertulis dalam kitab ini. Kata suththira bermakna dituliskan dalam baris, dan kalimat ini berbentuk pasif sehingga penekanannya pada isi kitab. Penulis lalu menambahkan bal jami'uhu ma'khudzun min 'ibarat al-mu'allifin: seluruhnya diambil dari ibarat para pengarang. Setelah itu ia mendoakan mereka, nafa'ana Allahu bihim.

Lihat pula kejujuran takarannya. Penulis tidak mengatakan seluruh isi berasal dari satu kitab. Ia memakai kata ghalib (sebagian besar), lalu menyebut kitab-kitab sandarannya satu per satu. Ini contoh bagaimana ulama klasik menjaga amanah ilmiah: menyebut sumber, tidak mengklaim yang bukan miliknya, dan mendoakan pemiliknya.

8. Kitab-Kitab Sumber: Dari "Mata Air" hingga Hasyiyah

Penulis menyebut sumbernya dengan gambaran yang hidup, dan urutannya patut diperhatikan:

Susunan kalimatnya perlu dicatat: frasa syarhi Abi Syuja' muncul tanpa huruf athaf setelah an-Nihayah. Karena itu ia dapat dibaca dua cara, yakni sebagai sumber tambahan yang berdiri sendiri (syarah-syarah atas matan Abu Syuja'), atau sebagai keterangan bagi kitab yang disebut sebelumnya. Terjemah di atas memakai pembacaan pertama. Bagian ini ditandai untuk kurasi.

Satu pola menarik tampak pada penamaan: nama kitab penulis, Nihayatuz Zain, sejajar dengan Nihayatul Amal dan Nihayatul Muhtaj yang menjadi sumbernya. Ini hanya pengamatan atas teks, tanpa klaim bahwa penulis sengaja menyelaraskannya.

9. Pembagian Tanggung Jawab: Benar dari Mereka, Salah dari Aku

Kalimat fa ma kana fihi min shawabin fa mansubun ila ha'ula'i, wa ma kana min khatha'in fa min dzihniyal kalil membagi tanggung jawab dengan jelas. Kata ma pada kedua kalimat mengandung makna syarat, sehingga jawabnya diawali huruf fa'. Yang benar dinisbatkan kepada para pengarang sumber, yang salah dikembalikan kepada diri penulis sendiri.

Penulis menyebut akalnya al-kalil, yaitu tumpul, seperti pedang yang tidak lagi tajam. Ini gambaran majazi tentang daya pikir yang lemah. Pengakuan ini sejalan dengan pembuka muqaddimah: penulis memulai dengan menyebut dirinya hamba yang faqir, dan menutup bagian ini dengan menyebut akalnya tumpul. Dengan cara itu seluruh bagian muqaddimah terjaga nadanya.

Penulis lalu meminta kepada siapa pun yang menelaah kitab ini, an yushlihahu bi luthfin wahtiyath, agar memperbaikinya dengan lemah lembut dan kehati-hatian. Dua syarat ini dapat dibaca sebagai adab koreksi: lemah lembut agar penulis tidak dipermalukan, dan hati-hati agar perbaikan tidak melahirkan kesalahan baru. Pembacaan ini adalah tafsir tim kajian, bukan penjelasan penulis, dan perlu dikurasi.

10. Doa Penutup: Empat Gerakan

Muqaddimah ditutup dengan doa yang tersusun rapi:

Ringkasan Mufradat Penting

Lafaz Arti Catatan
الرَّاجِي yang mengharap isim fa'il, objeknya ghafra adz-dzunub
التَّقْصِيرِ kekurangan diathafkan pada adz-dzunub
بَلَدًا، اعْتِقَادًا، مَذْهَبًا negeri, akidah, mazhab tamyiz bagi nisbat
الْقَاصِرِينَ yang terbatas kemampuannya dari qashara
عَيْنٌ غَدِيقَةٌ mata air yang melimpah kiasan untuk Nihayatul Amal
الْإِكْلِيلَيْنِ dua mahkota tatsniyah dari iklil
عُمْدَتَانِ dua pegangan utama khabar bagi innahuma
الْحَوَاشِي hasyiyah, catatan penjelas jamak dari hasyiyah
الْكَلِيلِ tumpul na'at bagi dzihni, gambaran majazi
الْمَرْجُوُّ yang diharapkan isim maf'ul, mubtada'
اطَّلَعَ menelaah, mengetahui shilah bagi man
أُصُولِهِ kitab-kitab induknya jamak dari ashl
أَكْرَمُ مَسْؤُولٍ yang paling mulia untuk dimintai isim tafdhil

Faedah dari Muqaddimah Nihayatuz Zain

Ada empat faedah yang dapat diambil. Pertama, kerendahan hati: penulis yang namanya dikenal luas memperkenalkan diri sebagai hamba yang faqir dan sebagai bagian dari kalangan yang terbatas. Kedua, amanah ilmiah: kitab ditulis dengan menyebut sumber dan mendoakan pemiliknya, bukan dengan mengklaim ilmu sebagai milik pribadi. Ketiga, kejelasan manhaj: dengan menyebut akidah dan mazhabnya, penulis membuat pembaca tahu bahwa kitab ini berbicara dari tradisi Asy'ari dan Syafi'i. Keempat, kesiapan dikoreksi: penulis menanggung kesalahannya sendiri dan membuka pintu perbaikan, dengan syarat yang santun.

Kajian sebelumnya membahas khutbah kitab ini, dan dapat dibaca di kumpulan artikel Daarus Sa'adah. Salinan terbuka kitabnya tersedia di halaman Nihayatuz Zain fi Irsyadil Mubtadi'in. Pertanyaan seputar kitab ini bisa diajukan kepada DS AI, asisten kajian Daarus Sa'adah, atau kembali ke Beranda Pondok Pesantren Daarus Sa'adah.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Bagikan:
Kajian Sebelumnya
Nihayah Zain Syaikh Nawawi Al-Bantani : Muqodimah - 01
Kajian Selanjutnya
Nihayah Zain Syaikh Nawawi Al-Bantani : Muqodimah - 03