Daarus Sa'adah 1 Nihayatuz Zain
Kajian Nihayatuz Zain

Nihayah Zain Syaikh Nawawi Al-Bantani : Muqodimah - 08

Oleh KH. M. Rifqy Aziz Syafe'i · 18 October 2026
Nihayah Zain Syaikh Nawawi Al-Bantani : Muqodimah - 08

Teks & Terjemah

(عَلَى مَذْهَبِ الْإِمَامِ) الْمُجْتَهِدِ اجْتِهَادًا مُطْلَقًا أَيْ عَلَى اخْتِيَارِهِ لِلْأَحْكَامِ (الشَّافِعِيِّ) نِسْبَةً إِلَى شَافِعِ بْنِ السَّائِبِ، نُسِبَ هَذَا الْإِمَامُ إِلَيْهِ لِأَنَّهُ صَحَابِيٌّ ابْنُ صَحَابِيٍّ (رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى).

(Menurut mazhab Imam asy-Syafi'i), yaitu imam yang berijtihad secara mutlak, maksudnya menurut pilihannya terhadap hukum-hukum, (asy-Syafi'i) yang dinisbatkan kepada Syafi' bin as-Sa'ib. Imam ini dinisbatkan kepadanya karena ia seorang sahabat putra seorang sahabat. (Semoga Allah Ta'ala merahmatinya).

وَالْمُجْتَهِدُ الْمُطْلَقُ هُوَ مَنْ يَقْدِرُ عَلَى اسْتِنْبَاطِ الْأَحْكَامِ مِنَ الْأَدِلَّةِ، وَمُجْتَهِدُ الْمَذْهَبِ هُوَ الَّذِي يَقْدِرُ عَلَى الِاسْتِنْبَاطِ مِنْ قَوَاعِدِ إِمَامِهِ كَالْمُزَنِيِّ وَالْبُوَيْطِيِّ، وَمُجْتَهِدُ الْفَتْوَى مَنْ يَقْدِرُ عَلَى التَّرْجِيحِ لِبَعْضِ أَقْوَالِ إِمَامِهِ عَلَى بَعْضٍ كَالنَّوَوِيِّ وَالرَّافِعِيِّ، لَا كَالرَّمْلِيِّ وَابْنِ حَجَرٍ لِأَنَّهُمَا مُقَلِّدَانِ فَقَطْ.

Mujtahid mutlak adalah orang yang mampu menyimpulkan hukum-hukum dari dalil-dalil. Mujtahid mazhab adalah orang yang mampu menyimpulkan hukum dari kaidah-kaidah imamnya, seperti al-Muzani dan al-Buwaithi. Mujtahid fatwa adalah orang yang mampu menguatkan sebagian pendapat imamnya atas sebagian yang lain, seperti an-Nawawi dan ar-Rafi'i, bukan seperti ar-Ramli dan Ibnu Hajar, karena keduanya hanyalah muqallid (pengikut tanpa ijtihad).

وَيَجِبُ عَلَى مَنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ أَهْلِيَّةُ الِاجْتِهَادِ الْمُطْلَقِ أَنْ يُقَلِّدَ فِي الْفُرُوعِ وَاحِدًا مِنَ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ الْمَشْهُورِينَ، وَهُمُ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ وَالْإِمَامُ أَبُو حَنِيفَةَ وَالْإِمَامُ مَالِكٌ وَالْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ. وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى {فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ} (21 الْأَنْبِيَاءِ: 7)، فَأَوْجَبَ اللَّهُ السُّؤَالَ عَلَى مَنْ لَمْ يَعْلَمْ، وَيَلْزَمُ عَلَيْهِ الْأَخْذُ بِقَوْلِ الْعَالِمِ، وَذَلِكَ تَقْلِيدٌ لَهُ.

Wajib bagi orang yang tidak memiliki kelayakan berijtihad mutlak untuk bertaklid dalam masalah cabang kepada salah satu dari empat imam yang masyhur, yaitu Imam asy-Syafi'i, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad bin Hanbal radhiyallahu 'anhum. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala {Maka bertanyalah kepada ahli zikir jika kamu tidak mengetahui} (surah ke-21, al-Anbiya', ayat 7). Allah mewajibkan bertanya atas orang yang tidak tahu, dan konsekuensinya wajib mengambil ucapan orang yang berilmu, dan itulah taklid kepadanya.

وَلَا يَجُوزُ تَقْلِيدُ غَيْرِ هَؤُلَاءِ الْأَرْبَعَةِ مِنْ بَاقِي الْمُجْتَهِدِينَ فِي الْفُرُوعِ مِثْلِ الْإِمَامِ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَسُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عُمَرَ الْأَوْزَاعِيِّ، وَلَا يَجُوزُ أَيْضًا تَقْلِيدُ وَاحِدٍ مِنْ أَكَابِرِ الصَّحَابَةِ لِأَنَّ مَذَاهِبَهُمْ لَمْ تُضْبَطْ وَلَمْ تُدَوَّنْ. وَأَمَّا مَنْ فِيهِ أَهْلِيَّةُ الِاجْتِهَادِ الْمُطْلَقِ فَإِنَّهُ يَحْرُمُ عَلَيْهِ التَّقْلِيدُ.

Tidak boleh bertaklid kepada selain empat imam ini dari para mujtahid lainnya dalam masalah cabang, seperti Imam Sufyan ats-Tsauri, Sufyan bin 'Uyainah, dan Abdurrahman bin 'Umar al-Auza'i. Tidak boleh pula bertaklid kepada salah seorang dari para sahabat senior, karena mazhab-mazhab mereka tidak dibakukan dan tidak dibukukan. Adapun orang yang memiliki kelayakan berijtihad mutlak, maka haram baginya bertaklid.

وَيَجِبُ عَلَى مَنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ الْأَهْلِيَّةُ أَنْ يُقَلِّدَ فِي الْأُصُولِ أَيِ الْعَقَائِدِ لِلْإِمَامِ أَبِي الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيِّ أَوِ الْإِمَامِ أَبِي مَنْصُورٍ الْمَاتُرِيدِيِّ، لَكِنْ إِيمَانُ الْمُقَلِّدِ مُخْتَلَفٌ فِيهِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى أَحْكَامِ الْآخِرَةِ، أَمَّا بِالنَّظَرِ إِلَى أَحْكَامِ الدُّنْيَا فَيَكْفِيهِ الْإِقْرَارُ فَقَطْ. وَالْأَصَحُّ أَنَّ الْمُقَلِّدَ مُؤْمِنٌ عَاصٍ إِنْ قَدَرَ عَلَى النَّظَرِ، وَغَيْرُ عَاصٍ إِنْ لَمْ يَقْدِرْ.

Wajib bagi orang yang tidak memiliki kelayakan itu untuk bertaklid dalam hal ushul, yakni akidah, kepada Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari atau Imam Abu Manshur al-Maturidi. Akan tetapi iman seorang muqallid diperselisihkan hukumnya terkait hukum-hukum akhirat. Adapun dari sisi hukum-hukum dunia, cukup baginya pengakuan (dengan lisan) saja. Pendapat yang paling sahih, muqallid adalah mukmin yang berdosa bila ia mampu melakukan penalaran (nazhar), dan tidak berdosa bila ia tidak mampu.

ثُمَّ إِنْ جَزَمَ بِقَوْلِ الْغَيْرِ جَزْمًا قَوِيًّا بِحَيْثُ لَوْ رَجَعَ الْمُقَلَّدُ بِالْفَتْحِ لَمْ يَرْجِعْ هُوَ كَفَاهُ فِي الْإِيمَانِ، لَكِنَّهُ عَاصٍ بِتَرْكِ النَّظَرِ إِنْ كَانَ فِيهِ أَهْلِيَّةُ النَّظَرِ. وَإِنْ لَمْ يَجْزِمْ بِقَوْلِ الْغَيْرِ جَزْمًا قَوِيًّا بِأَنْ كَانَ جَازِمًا لَكِنْ لَوْ رَجَعَ الْمُقَلَّدُ بِالْفَتْحِ لَرَجَعَ هُوَ لَمْ يَكْفِهِ فِي الْإِيمَانِ.

Kemudian, jika ia meyakini ucapan orang lain dengan keyakinan yang kuat, sedemikian rupa sehingga seandainya pihak yang diikuti (al-muqallad, dengan fathah) menarik pendapatnya ia sendiri tidak ikut menarik, maka itu mencukupinya dalam iman, tetapi ia berdosa karena meninggalkan penalaran bila ia memiliki kelayakan bernalar. Namun jika ia tidak meyakini ucapan orang lain dengan keyakinan yang kuat, yakni ia memang yakin, tetapi seandainya pihak yang diikuti menarik pendapatnya ia pun ikut menarik, maka itu tidak mencukupinya dalam iman.

وَيَجِبُ عَلَى مَنْ ذُكِرَ أَنْ يُقَلِّدَ فِي عِلْمِ التَّصَوُّفِ إِمَامًا مِنْ أَئِمَّةِ التَّصَوُّفِ كَالْجُنَيْدِ، وَهُوَ الْإِمَامُ سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَبُو الْقَاسِمِ الْجُنَيْدُ سَيِّدُ الصُّوفِيَّةِ عِلْمًا وَعَمَلًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ.

Wajib bagi orang yang telah disebut itu untuk bertaklid dalam ilmu tasawuf kepada seorang imam dari para imam tasawuf, seperti al-Junaid, yaitu Imam Sa'id bin Muhammad Abu al-Qasim al-Junaid, pemuka kaum sufi dalam ilmu dan amal, radhiyallahu 'anhu.

وَالْحَاصِلُ أَنَّ الْإِمَامَ الشَّافِعِيَّ وَنَحْوَهُ هُدَاةُ الْأُمَّةِ فِي الْفُرُوعِ، وَالْإِمَامَ الْأَشْعَرِيَّ وَنَحْوَهُ هُدَاةُ الْأُمَّةِ فِي الْأُصُولِ، وَالْجُنَيْدَ وَنَحْوَهُ هُدَاةُ الْأُمَّةِ فِي التَّصَوُّفِ، فَجَزَاهُمُ اللَّهُ خَيْرًا وَنَفَعَنَا بِهِمْ آمِينَ.

Kesimpulannya, Imam asy-Syafi'i dan sejenisnya adalah para pemandu umat dalam masalah cabang, Imam al-Asy'ari dan sejenisnya adalah para pemandu umat dalam masalah pokok, dan al-Junaid dan sejenisnya adalah para pemandu umat dalam tasawuf. Semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan dan memberi kita manfaat dengan mereka, amin.

Penjelasan Ijmali

Gagasan pokok teks ini dapat dirumuskan dalam empat langkah.

  1. Identitas mazhab. Kitab menyatakan bahwa isinya disusun menurut mazhab Imam asy-Syafi'i, lalu menjelaskan arti "mazhab" sebagai pilihan imam terhadap hukum-hukum, serta asal nisbah nama beliau.
  2. Tingkatan ahli ijtihad. Kitab membedakan mujtahid mutlak, mujtahid mazhab, mujtahid fatwa, dan muqallid, lengkap dengan contoh tokohnya.
  3. Kewajiban taklid bagi yang belum layak berijtihad. Dalam masalah cabang, ia wajib mengikuti salah satu dari empat imam. Dalam masalah akidah, ia mengikuti al-Asy'ari atau al-Maturidi. Dalam tasawuf, ia mengikuti seorang imam tasawuf seperti al-Junaid. Orang yang berhak berijtihad mutlak justru haram bertaklid.
  4. Status iman muqallid. Kitab membahas apakah iman orang yang bertaklid dalam akidah sah dan mencukupi, dengan ukuran kekuatan keyakinannya.

Hasilnya adalah peta rujukan ilmu bagi seorang muslim: fikih kepada imam mazhab, akidah kepada imam akidah, dan tasawuf kepada imam tasawuf. Dengan peta ini, santri tahu bahwa bermazhab bukan sikap tanpa dalil, melainkan konsekuensi dari tingkat kemampuan yang dimiliki.

Penjelasan Tafshili:

1. "عَلَى مَذْهَبِ الْإِمَامِ": makna mazhab

Kitab menafsirkan madzhab dengan ikhtiyarihi lil ahkam: pilihan sang imam terhadap hukum-hukum. Jadi mazhab bukan sekadar kumpulan pendapat, melainkan hasil pilihan seorang mujtahid atas hukum. Frasa al-mujtahid ijtihadan muthlaqan menjadi sifat bagi imam, menandai bahwa yang diikuti adalah ahli ijtihad mutlak, bukan sembarang ahli fikih.

2. "الشَّافِعِيِّ": asal nisbah dan klaim "صَحَابِيٌّ ابْنُ صَحَابِيٍّ"

Kitab menjelaskan bahwa nama asy-Syafi'i dinisbatkan kepada Syafi' bin as-Sa'ib, karena orang ini shahabiyyun ibnu shahabiyyin, yakni seorang sahabat putra seorang sahabat. Penjelasan ini menyebut dua hal: asal nama, dan kemuliaan silsilah. Keterangan itu kami sampaikan sesuai teks kitab dan belum kami cocokkan dengan kitab biografi (tarajim); mohon dikurasi. Doa rahimahullahu ta'ala menjadi adab standar kitab saat menyebut imam.

3. Tiga tingkat mujtahid

Kitab merumuskan tiga tingkat dengan ukuran kemampuan:

Garis pembedanya jelas: dari dalil, dari kaidah imam, dan dari pendapat imam. Makin turun tingkatannya, makin dekat pada pendapat yang sudah ada. Kitab juga menyebut al-Muzani dan al-Buwaithi, murid-murid asy-Syafi'i yang dikenal dalam kitab-kitab tingkatan ulama mazhab. Keterangan tentang kedudukan mereka kami ambil dari pengetahuan umum, bukan dari teks.

4. "لَا كَالرَّمْلِيِّ وَابْنِ حَجَرٍ لِأَنَّهُمَا مُقَلِّدَانِ فَقَطْ"

Kitab dengan tegas mengecualikan ar-Ramli dan Ibnu Hajar dari kelompok mujtahid fatwa, dengan alasan keduanya muqallidan faqath (hanya pengikut). Di kalangan pesantren, kedua ulama ini sangat berpengaruh sebagai rujukan pendapat yang kuat dalam mazhab, sehingga pernyataan ini perlu dibaca dengan hati-hati. Kami tidak menafsirkan lebih jauh dan tidak menemukan keterangan dalam teks tentang perbedaan peran mereka dengan an-Nawawi dan ar-Rafi'i. Bagian ini kami tandai untuk dikurasi.

5. Kewajiban taklid pada masalah cabang dan batas empat imam

Kitab mewajibkan orang yang belum layak berijtihad mutlak untuk bertaklid kepada salah satu dari empat imam yang masyhur: asy-Syafi'i, Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad bin Hanbal. Frasa wahidan minal a'immatil arba'ah menegaskan satu orang, bukan semuanya sekaligus. Dalil yang disebut adalah QS al-Anbiya' ayat 7, fas'alu ahladz dzikri in kuntum la ta'lamun. Penalarannya berlangsung dalam tiga langkah: (a) Allah mewajibkan bertanya bagi yang tidak tahu; (b) kewajiban bertanya berkonsekuensi kewajiban mengambil jawaban orang berilmu; (c) mengambil jawaban itu tanpa menuntut dalilnya adalah taklid. Dalam teks yang antum kirim, bagian "21 الأنبياء الآية 7" tampak seperti catatan kaki penyunting; kami mempertahankannya dalam kurung. Ayat yang sama juga ada dalam surah an-Nahl ayat 43 (tambahan tim kajian).

6. Mujtahid lain dan para sahabat besar

Kitab melarang taklid kepada mujtahid selain empat imam dalam masalah cabang, dengan contoh Sufyan ats-Tsauri, Sufyan bin 'Uyainah, dan al-Auza'i. Kitab juga melarang taklid kepada salah seorang sahabat senior, dengan alasan yang disebut tegas: li anna madzahibahum lam tudhbath wa lam tudawwan, karena mazhab mereka tidak dibakukan dan tidak dibukukan. Perhatikan bahwa alasan tertulis ini hanya untuk sahabat. Untuk mujtahid-mujtahid lain kitab tidak menyebut alasannya dalam teks ini. Kami tidak menyimpulkan alasan itu sendiri dan menandainya untuk dikurasi. Nama al-Auza'i dalam teks tertulis "Abdurrahman bin 'Umar"; nama yang lazim dikenal adalah Abdurrahman bin 'Amr, sehingga kami mengikuti teks dan menandainya.

7. Haram taklid bagi mujtahid mutlak

Kalimat yaharumu 'alaihit taqlid menutup bagian ini dengan simetri: yang belum layak wajib bertaklid, yang sudah layak haram bertaklid. Dengan demikian, hukum taklid ditentukan oleh kemampuan, bukan oleh selera.

8. Taklid dalam ushul: al-Asy'ari dan al-Maturidi

Dalam akidah (al-ushul ay al-'aqa'id), kitab menunjuk dua imam: Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Abu Manshur al-Maturidi. Penunjukan keduanya sekaligus, tidak hanya satu, berbeda dengan fikih yang dibatasi pada satu imam dari empat. Kitab tidak menjelaskan sebab perbedaan susunan itu, sehingga kami tidak menafsirkannya.

9. Iman muqallid: dua sisi hukum

Kitab memisahkan hukum iman muqallid menjadi dua sisi. Terkait hukum akhirat, mukhtalafun fih (diperselisihkan). Terkait hukum dunia, yakfihil iqrar faqath (cukup pengakuan saja). Perbedaan dua sisi ini penting: seseorang diperlakukan sebagai muslim dalam urusan dunia (misalnya pernikahan dan pemakaman) dengan pengakuan lisan, sedangkan nilai imannya di hadapan Allah memiliki pembahasan tersendiri. Contoh dalam kurung itu adalah penjelasan tim kajian untuk memperjelas, bukan dari teks.

10. "الْأَصَحُّ": mukmin yang berdosa atau tidak berdosa

Pendapat yang dinilai paling sahih: muqallid adalah mukmin (sehingga imannya sah), tetapi berdosa ('ashin) bila ia mampu bernalar (nazhar) namun meninggalkannya, dan tidak berdosa bila tidak mampu. Hukum dosa dan sah bergantung pada kemampuan, bukan pada kebodohan semata. Kata al-ashahh sendiri menandakan adanya pendapat lain yang kurang kuat; kitab tidak merinci pendapat lain itu dalam teks ini.

11. Uji keyakinan: "المُقَلَّد بالفتح"

Kitab memberi ukuran yang unik. Seseorang disebut yakin kuat bila seandainya al-muqallad (dengan fathah, yaitu imam yang diikuti) menarik pendapatnya, ia sendiri tidak ikut menarik. Perhatikan penegasan "dengan fathah": al-muqallad berarti yang diikuti, berbeda dari al-muqallid (dengan kasrah) yang berarti pengikut. Bila keyakinannya kuat dengan ukuran itu, imannya mencukupi, hanya saja ia berdosa bila meninggalkan nalar padahal mampu. Bila ia memang yakin, tetapi akan ikut menarik jika imamnya menarik, imannya tidak mencukupi. Uji hipotetis ini membedakan keyakinan yang berdiri sendiri dari keyakinan yang bergantung pada orang yang diikuti.

12. Taklid dalam tasawuf dan nama al-Junaid

Kitab mewajibkan orang yang telah disebut bertaklid dalam tasawuf kepada seorang imam tasawuf seperti al-Junaid, yang digambarkan sebagai pemuka kaum sufi dalam ilmu dan amal. Dalam teks tertulis "Sa'id bin Muhammad Abu al-Qasim al-Junaid". Nama yang lazim dikenal untuk al-Junaid adalah al-Junaid bin Muhammad; karena itu kami mempertahankan teks apa adanya dan menandai bagian "Sa'id" untuk dikurasi.

13. "وَالْحَاصِلُ": tiga pemandu umat

Kitab menutup dengan rangkuman: asy-Syafi'i dan sejenisnya adalah hudatul ummah (pemandu umat) dalam masalah cabang, al-Asy'ari dan sejenisnya dalam masalah pokok, dan al-Junaid dan sejenisnya dalam tasawuf. Susunan tiga ilmu ini, yaitu fikih, akidah, dan tasawuf, dalam tradisi pesantren sering dikaitkan dengan tiga tingkat agama dalam hadits Jibril: Islam, iman, dan ihsan. Keterkaitan itu adalah penghubung tim kajian, bukan pernyataan kitab dalam teks ini. Frasa penutup fa jazahumullahu khairan wa nafa'ana bihim amin adalah doa, yang menunjukkan bahwa penghormatan kepada para imam menyertai pembahasan hukum.

Ringkasan Mufradat Penting

Lafaz Arti Catatan
الْمَذْهَبُ pilihan imam terhadap hukum menurut penafsiran kitab
الْمُجْتَهِدُ الْمُطْلَقُ ahli ijtihad mutlak menyimpulkan hukum langsung dari dalil
مُجْتَهِدُ الْمَذْهَبِ ahli ijtihad dalam mazhab menyimpulkan dari kaidah imamnya
مُجْتَهِدُ الْفَتْوَى ahli ijtihad dalam fatwa menguatkan sebagian pendapat imamnya
الِاسْتِنْبَاطُ menyimpulkan hukum dari dalil atau kaidah
التَّرْجِيحُ menguatkan satu pendapat pada tingkat mujtahid fatwa
الْمُقَلِّدُ pengikut kasrah pada huruf lam
الْمُقَلَّدُ yang diikuti fathah pada huruf lam
الْفُرُوعُ masalah cabang ranah fikih
الْأُصُولُ masalah pokok (akidah) diikuti al-Asy'ari atau al-Maturidi
النَّظَرُ penalaran kemampuan menalar dalil akidah
هُدَاةُ الْأُمَّةِ para pemandu umat jamak dari hadi

Faedah dari Pembahasan Mazhab dan Taklid

  1. Bermazhab adalah konsekuensi kemampuan. Kewajiban taklid bagi yang belum layak berijtihad menunjukkan bahwa mengikuti imam adalah sikap yang disertai dalil, bukan sikap tanpa dasar.
  2. Tingkatan ilmu perlu dikenali. Membedakan mujtahid mutlak, mazhab, dan fatwa membantu santri memahami mengapa pendapat dalam kitab dibaca dengan tingkat otoritas yang berbeda.
  3. Akidah juga punya rujukan. Taklid dalam ushul kepada al-Asy'ari atau al-Maturidi, dengan syarat kekuatan keyakinan, menjaga agar iman tidak bergantung semata pada orang yang diikuti.
  4. Tiga rujukan, tiga ilmu. Fikih kepada imam mazhab, akidah kepada imam akidah, tasawuf kepada imam tasawuf; ketiganya berjalan beriringan.
  5. Adab terhadap para imam. Setiap penyebutan imam disertai doa, mengajarkan penghormatan kepada para ulama.

Artikel ini melanjutkan kajian pengantar ilmu fikih dalam kitab ini dan menjadi bagian seri Kajian Nihayatuz Zain di Pondok Pesantren Daarus Sa'adah. Teks kitab dalam salinan terbuka dapat ditelusuri pula di Nihayat az-Zain di Usul.ai.

Bagikan:
Kajian Sebelumnya
Nihayah Zain Syaikh Nawawi Al-Bantani : Muqodimah - 07