Daarus Sa'adah 1 Semua Artikel
KepesantrenanUmum

Masa Depan Pendidikan Pesantren di Tengah Perubahan Zaman

Oleh KH. M. Rifqy Aziz Syafe'i · 20 September 2026
Masa Depan Pendidikan Pesantren di Tengah Perubahan Zaman

Ada sebuah pertanyaan yang mungkin beberapa tahun lalu terdengar asing, tetapi sekarang semakin sulit untuk dihindari:

Jika kecerdasan buatan dapat mengakses, mengolah, menjelaskan, menerjemahkan, bahkan menghasilkan pengetahuan dalam hitungan detik, lalu apa alasan seorang anak masih harus menghabiskan bertahun-tahun hidupnya di pesantren?

Pertanyaan ini bukanlah bentuk penolakan terhadap pesantren.

Justru sebaliknya. Pertanyaan ini penting karena masa depan pendidikan pesantren tidak dapat hanya ditentukan oleh kemampuan mempertahankan apa yang telah dilakukan selama puluhan atau bahkan ratusan tahun. Pesantren juga perlu bertanya kepada dirinya sendiri: apa sebenarnya yang hendak dibentuk dari seorang santri ?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah cara manusia belajar.

Hari ini, seseorang dapat meminta AI menerjemahkan bahasa Arab, menjelaskan istilah fikih, merangkum kitab, membuat ringkasan pelajaran, mencari perbandingan pendapat, atau menjelaskan suatu persoalan dalam bahasa yang sederhana.

Bahkan, kemampuan mesin untuk menyimpan dan mengolah informasi sudah berada pada skala yang sulit dibandingkan dengan kapasitas hafalan manusia.

Lalu muncul pertanyaan yang lebih dalam:

Jika sebagian pekerjaan mengingat dapat dilakukan mesin, apakah hafalan masih penting?

Jika informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik, apakah masih perlu bertahun-tahun belajar di pesantren?

Dan akhirnya:

"Apakah pesantren masih relevan di era AI ?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak semestinya dijawab dengan ketakutan terhadap teknologi. Tetapi juga tidak cukup dijawab dengan romantisme bahwa semua tradisi lama pasti benar hanya karena telah berlangsung lama.

Pesantren perlu melihat perubahan zaman dengan jernih.

Ketika AI Membuat Pengetahuan Semakin Mudah Diperoleh

Salah satu perubahan paling besar yang dibawa AI bukan semata-mata kemampuan teknologi menghasilkan tulisan.

Perubahan yang lebih mendasar adalah menurunnya biaya untuk memperoleh informasi. Dahulu, seseorang yang ingin memahami suatu persoalan harus mencari buku, membuka beberapa referensi, membaca dengan teliti, mencatat, bertanya kepada guru, berdiskusi, dan membutuhkan waktu yang relatif panjang.

Sekarang sebagian proses tersebut dapat dilakukan melalui perangkat digital. Seorang pelajar yang tidak memahami istilah tertentu dapat langsung bertanya. Seseorang yang tidak mengerti bahasa asing dapat meminta terjemahan. Orang yang kesulitan memahami sebuah topik dapat meminta penjelasan dengan berbagai tingkat kesederhanaan.

Dengan demikian, AI bukan hanya membuat proses belajar lebih cepat. Ia juga mengubah hubungan manusia dengan pengetahuan. Informasi yang dahulu sulit ditemukan sekarang menjadi sangat mudah diperoleh. Tetapi kemudahan mendapatkan jawaban tidak otomatis berarti seseorang menjadi lebih berilmu.

Di sinilah masalah pendidikan dimulai.

"Mengetahui jawaban tidak sama dengan memahami persoalan".

Menemukan informasi tidak sama dengan mengetahui apakah informasi tersebut benar. Dan mampu menjelaskan suatu konsep tidak selalu berarti mampu mengamalkannya.

Rabithah Ma'ahid Islamiyah PBNU pada 2026 juga mengingatkan bahwa AI tidak seharusnya ditempatkan sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Informasi yang dihasilkan AI tetap perlu diverifikasi melalui tradisi tabayun dan sumber keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan. NU Online: RMI PBNU tentang AI dan tradisi tabayun

Artinya, semakin murah informasi diperoleh, semakin penting kemampuan menilai informasi.

Dan kemampuan menilai tidak lahir hanya dari banyaknya informasi yang disimpan.

Apakah Masih Relevan Menjadi Santri di Era AI?

Pertanyaan ini perlu dijawab secara jujur.

Jika pesantren hanya berfungsi sebagai tempat untuk memindahkan informasi dari kepala guru ke kepala santri, maka perkembangan AI memang menghadirkan tantangan besar.

Sebab untuk pekerjaan tertentu, mesin dapat melakukannya lebih cepat.

Dalam kondisi seperti itu, pendidikan pesantren tidak dapat mempertahankan relevansinya hanya dengan mengatakan:

“Karena dulu begini, maka sekarang juga harus begini.”

Pesantren justru perlu kembali kepada pertanyaan mendasar:

Apa tujuan pendidikan?

Apakah pendidikan hanya bertujuan menjadikan seseorang mengetahui banyak hal ?

Ataukah pendidikan bertujuan membentuk manusia yang mampu membedakan benar dan salah, mampu mempertanggungjawabkan pengetahuannya, mampu mengendalikan dirinya, mampu hidup bersama orang lain, dan mampu menggunakan ilmu untuk kemaslahatan ?

Jika tujuan pendidikan hanya berupa penguasaan informasi, maka AI memang akan menjadi pesaing yang sangat kuat.

Tetapi jika pendidikan bertujuan membentuk manusia, maka persoalannya jauh lebih kompleks.

Ketika AI Bisa Menghafal, Apa Arti Hafalan bagi Santri?

Inilah salah satu pertanyaan paling penting dalam pendidikan pesantren hari ini. Bayangkan seorang santri yang selama bertahun-tahun menghafalkan berbagai materi. Sementara itu, sebuah sistem AI dapat menyimpan informasi jauh lebih banyak dan mengaksesnya jauh lebih cepat.

Apakah itu berarti hafalan manusia menjadi sia-sia?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Sebab "hafalan tidak selalu memiliki nilai hanya karena informasi tersebut berhasil disimpan di dalam ingatan".

Hafalan dalam pendidikan dapat menjadi bagian dari proses pembentukan diri. Seorang santri yang menghafal Al-Qur'an, misalnya, tidak hanya sedang memasukkan rangkaian kata ke dalam memorinya, tetapi :

Ada proses pembentukan kebiasaan di sana. Demikian pula dalam tradisi pembelajaran kitab.

Proses itu berlangsung berkali-kali.

Dengan demikian, nilai pendidikan tidak seluruhnya berada pada hasil hafalan, tetapi juga pada proses yang membentuk manusia melalui hafalan tersebut.

AI mungkin dapat menyimpan informasi. Tetapi menyimpan informasi bukanlah keseluruhan makna pendidikan.

Hafalan Bukan Sekadar Penyimpanan Data

Perbedaan ini perlu diperjelas. Ketika komputer menyimpan data, ia tidak mengalami makna dari data tersebut.

Manusia berbeda. Apa yang masuk ke dalam ingatan manusia dapat membentuk cara berpikir, cara berbicara, cara mengambil keputusan, bahkan cara seseorang memandang kehidupan.

Seorang santri yang menghafal suatu ayat tidak hanya memiliki data berupa ayat tersebut. Ayat itu dapat menjadi bagian dari pertimbangannya ketika ia berbicara, memilih, menilai, atau mengambil keputusan.

Karena itu, persoalannya bukan:

“Apakah AI lebih kuat menghafal daripada manusia?”

Kemungkinan besar dalam banyak konteks, iya.

Tetapi pertanyaan pendidikan yang lebih penting adalah:

“Apa yang terjadi pada manusia ketika ia menghafal sesuatu yang diyakininya penting?”

Di sinilah hafalan masih memiliki tempat.

Bukan karena manusia harus mengalahkan mesin dalam jumlah informasi yang dapat disimpan, melainkan karena pendidikan tidak bertujuan menjadikan manusia sebagai mesin penyimpanan informasi.

Yang Tidak Bisa Diunduh: Guru, Keteladanan, dan Adab

Ada bagian dari pendidikan yang sering kali sulit dijelaskan dalam ukuran teknologi. Seorang guru tidak hanya memberikan jawaban. Guru juga melihat murid.

Seorang santri belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan guru, tetapi juga dari bagaimana guru bersikap.

Karena itu hubungan guru dan santri bukan sekadar hubungan antara pengirim dan penerima informasi. Ia adalah hubungan pendidikan. Dalam konteks inilah keberadaan pesantren memiliki dimensi yang lebih luas daripada ruang kelas dan buku.

Santri hidup dalam lingkungan. Ia berinteraksi dengan guru, teman, pengurus, masyarakat, dan berbagai persoalan kehidupan sehari-hari.

Daarus Sa'adah sendiri menempatkan kehidupan pesantren sebagai bagian dari pembinaan santri: ibadah berjamaah, pengajian, pembelajaran, pembinaan akhlak, kegiatan kepemimpinan, public speaking, bahasa, tahfidz, dan qira'atul kutub menjadi bagian dari ekosistem pendidikan, bukan sekadar mata pelajaran terpisah. Profil dan program Daarus Sa'adah

Pesantren Tidak Boleh Bersembunyi di Balik Tradisi

Namun ada kesalahan lain yang juga harus dihindari. Jangan sampai pembicaraan tentang "mempertahankan tradisi" berubah menjadi alasan untuk "menolak evaluasi". Tradisi pesantren memiliki kekayaan intelektual yang sangat besar. Tetapi menjaga tradisi tidak sama dengan mempertahankan semua bentuk pembelajaran tanpa evaluasi.

Justru karena dunia berubah, pesantren harus berani bertanya:

Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena tantangan pendidikan masa depan bukan lagi sekadar kekurangan informasi.

Tantangannya justru bisa berupa kelebihan informasi tanpa kemampuan menilai.

Dalam kondisi seperti ini, pesantren justru memiliki kesempatan untuk memperkuat kembali tradisi yang sudah lama dimilikinya: "belajar kepada guru, membaca sumber, memahami konteks, memeriksa riwayat, berdiskusi, dan melakukan tabayun".

Masa Depan Pendidikan Pesantren Tidak Bisa Dipisahkan dari Perubahan Indonesia

Perubahan pendidikan pesantren di Indonesia juga sedang berlangsung dalam skala kelembagaan.

Kementerian Agama pada 2026 telah memasuki fase baru dengan penguatan struktur khusus untuk pesantren. Kementerian Agama menerbitkan PMA Nomor 16 Tahun 2026 terkait struktur baru Direktorat Jenderal Pesantren, dan pada September 2026 Menteri Agama melantik Direktur Jenderal Pesantren. Kementerian Agama: Struktur baru Ditjen Pesantren dan Kementerian Agama: Pelantikan Dirjen Pesantren

Perkembangan ini memperlihatkan bahwa pesantren semakin dipandang sebagai bagian penting dari ekosistem pendidikan nasional.

Pada saat yang sama, pembahasan RUU Sistem Pendidikan Nasional pada 2026 juga memasukkan persoalan posisi dan kekhasan pendidikan keagamaan, termasuk pesantren. Komisi X DPR menyampaikan bahwa pesantren perlu tetap memiliki kekhasan dan kemandirian dalam sistem pendidikan nasional. JDIH DPR RI: RUU Sisdiknas dan kekhasan pesantren

Artinya, pembicaraan tentang masa depan pesantren bukan sekadar persoalan internal lembaga pendidikan Islam.

Ia juga bagian dari percakapan yang lebih besar tentang arah pendidikan Indonesia.

Pesantren Juga Harus Menjawab Persoalan Ekonomi dan Dunia Kerja

Masa depan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan. Ada persoalan lain yang tidak kalah penting:

"bagaimana lulusan pendidikan dapat hidup, bekerja, berkontribusi, dan memberdayakan masyarakat".

Karena itu, pesantren masa depan tidak cukup hanya menghasilkan orang yang mampu membaca teks.

Santri juga perlu memiliki kemampuan berkomunikasi, memimpin, bekerja sama, beradaptasi dengan teknologi, memahami persoalan sosial, dan memiliki keterampilan yang dapat digunakan dalam kehidupan nyata.

Kementerian Agama pada 2026 juga terus mendorong penguatan kelembagaan serta kemandirian ekonomi pesantren. Program pengembangan ekonomi pesantren diarahkan agar pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan dan dakwah, tetapi juga mampu memberdayakan masyarakat dan membangun sumber daya yang berkelanjutan. Kementerian Agama: Penguatan dan kemandirian ekonomi pesantren

Ini menunjukkan bahwa masa depan pendidikan pesantren memiliki dimensi yang lebih luas.

Ilmu, akhlak, teknologi, kepemimpinan, dan kemandirian ekonomi tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri.

Pesantren Tidak Harus Memilih antara Tradisi dan Teknologi

Perdebatan tentang pesantren dan AI sering kali terjebak pada dua kutub.

Kutub pertama mengatakan:

“Teknologi akan merusak tradisi.”

Kutub kedua mengatakan:

“Tradisi sudah tidak relevan karena semuanya dapat dilakukan teknologi.”

Keduanya terlalu sederhana. Pesantren tidak harus memilih salah satunya.

Inilah mungkin salah satu bentuk masa depan pendidikan pesantren yang lebih realistis.

Bukan pesantren melawan AI. Bukan pula pesantren menyerahkan pendidikan kepada AI.

Tetapi pesantren menggunakan AI sebagai alat sambil tetap mempertahankan manusia sebagai pusat pendidikan.

Kementerian Agama bahkan telah mendorong digitalisasi pesantren melalui berbagai inisiatif, termasuk Pesantren Smart Digital yang diarahkan untuk mendukung tata kelola lembaga dan ekosistem pembelajaran. Kemenag: Pesantren Smart Digital dan AI

Dari “Tahu” Menjadi “Mampu Menimbang”

Mungkin inilah perubahan terbesar yang harus dipikirkan pendidikan pesantren. Dunia masa depan bukan dunia yang kekurangan jawaban. Justru sebaliknya. "Jawaban akan datang terlalu cepat".

Manusia akan berhadapan dengan semakin banyak informasi, semakin banyak opini, semakin banyak konten, dan semakin banyak jawaban yang terlihat meyakinkan. Karena itu, pendidikan perlu menghasilkan manusia yang mampu menimbang.

Dalam hal ini, tradisi keilmuan pesantren memiliki sesuatu yang tetap penting. Belajar tidak berhenti pada menerima informasi.

Karena itu, pendidikan tidak selesai ketika seseorang mampu menjawab pertanyaan. Pendidikan baru benar-benar memiliki makna ketika pengetahuan tersebut mengubah cara seseorang menjalani kehidupan.

Jadi, Apakah Pesantren Masih Relevan di Era AI?

Jawaban akan bergantung kepada bagaimana anda memahami persoalan. singkatnya :

Karena itu, penting untuk benar-benar memahami apa sebenarnya tujuan kita mendaftarkan sekolah putra-putri kita ? apa makna dan arti dari kita menitipkan putra-putri kita ke pesantren ? dan apa sebenarnya harapan kita terhadap pendidikan dan pesantren.

Selain itu, inti dari jawaban atas pertanyaan ini seharusnya tidak dicari dengan membandingkan siapa yang lebih cepat: manusia atau mesin. karena :

Karena itu, pesantren tidak dapat mempertahankan relevansinya dengan mencoba memenangkan perlombaan melawan teknologi. 

Pesantren justru perlu menawarkan sesuatu yang berbeda. 

Inilah mengapa pembicaraan tentang masa depan pendidikan pesantren tidak semestinya berhenti pada pertanyaan apakah AI akan menggantikan guru.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Manusia seperti apa yang ingin dibentuk oleh pesantren ketika mesin semakin mampu melakukan pekerjaan yang dulu hanya dapat dilakukan manusia?

Masa Depan Pesantren Adalah Masa Depan Manusia

Bayangkan seorang santri pada masa depan.

Pada saat seperti itu, pertanyaannya bukan lagi:

Seberapa cepat ia menemukan jawaban?

Bukan pula:

Seberapa banyak informasi yang ia hafal?

Pertanyaannya berubah menjadi:

Apakah ia mempunyai ilmu yang membimbing tindakannya?

Apakah ia mempunyai akhlak yang menahan dirinya ketika ilmu dapat digunakan untuk kepentingan yang salah?

Apakah ia mampu membedakan antara sesuatu yang mudah diperoleh dengan sesuatu yang benar?

Dan apakah ia mampu menggunakan kecanggihan zaman tanpa kehilangan dirinya sebagai manusia? Di sinilah pesantren memiliki pekerjaan yang sangat besar. Masa depan pendidikan pesantren bukan tentang mempertahankan masa lalu seolah-olah dunia tidak berubah. Namun bukan pula tentang meninggalkan tradisi hanya karena teknologi menemukan cara yang lebih cepat.

Masa depan pesantren mungkin justru berada di antara keduanya:

tradisi yang mampu membaca zaman, dan teknologi yang tunduk kepada nilai.

Sebab ketika AI semakin mampu menjawab banyak pertanyaan manusia, pendidikan justru harus mengajarkan sesuatu yang lebih sulit:

bagaimana manusia memilih pertanyaan yang benar, menilai jawaban dengan jernih, dan menggunakan ilmu dengan akhlak.

Daarus Sa'adah menempatkan cita pendidikan dalam ungkapan yang sederhana tetapi mendasar: berilmu amaliyah, beramal ilmiyah, dan berakhlakul karimah.

Pada zaman ketika informasi dapat diperoleh hampir tanpa batas, mungkin justru itulah yang semakin dibutuhkan. Bukan manusia yang sekadar tahu lebih banyak. Tetapi manusia yang mampu menggunakan apa yang diketahuinya untuk hidup dengan benar.

Dan mungkin di situlah jawaban paling penting tentang masa depan pendidikan pesantren. Bukan apakah pesantren mampu mengalahkan AI. Tetapi apakah pesantren mampu terus membentuk manusia yang, bahkan ketika mesin semakin cerdas, tetap memiliki ilmu, adab, tanggung jawab, dan hati nurani.

Bagikan:
Artikel Sebelumnya
Kecerdasan Buatan di Kepala Manusia: Komparasi Fiqih Neuralink antara Ikhtiar Medis dan Taghyir Khalqillah